APAKAH Hipothermia ?
“Hipothermia
adalah gangguan medis yang terjadi didalam tubuh dimana terjadi penurunan
temperatur tubuh secara tidak wajar disebabkan tubuh tidak mampu lagi
memproduksi panas untuk mengimbangi dan menggantikan panas tubuh yang hilang dengan
cepat karena buasnya tekanan buruk dari luar, yaitu udara dingin disertai
angin, juga hujan, dan ketidak-pedulian dari Subyek itu sendiri yang makin
memperparah keadaan, yaitu memakai pakaian basah, tubuh lelah dan lapar, serta
seluruh tubuh terutama kepala tidak terlindung dari terpaan angin dingin.
Situasi tersebut menjadikan temperatur tubuh turun dengan cepat dari 37°C
(temperature normal) secara keseluruhan turun hingga dibawah 35°C.
Selanjutnya kematian bisa terjadi bila temperatur tubuh terus semakin turun
drastis hingga dibawah 30°C. Jangan pernah mempersalahkan kondisi cuaca yang
ekstrim, penyebab dan pemicu datangnya Hipothermia di Gunung bukanlah semata
karena udara dingin, disertai datangnya hujan dan badai, tetapi tak lain karena
sikap mental dan perilaku dari si pendaki itu sendiri yang mengundang agar
dirinya terserang hipothermia, selanjutnya ketidak tahuan atau tidak
memperdulikan ancaman hipothermia saat bertualang di gunung hanya akan
manghadapkan seseorang dengan sebuah masalah serius, yaitu kematian.
Hipothermia sangat mungkin sekali untuk dihindari apabila betul-betul dipahami,
tetapi tak jarang para pemula kegiatan alam bebas menganggap remeh dan tidak
peduli dengannya hingga saat hypothermia mulai menyerang , mereka tidak mengerti
harus berbuat apa, bahkan pada tahap lanjut hipothermia dimana penderita
berperilaku aneh, teman-temannya mengira kesurupan. Satu hal yang perlu
dipahami bahwa hipothermia bisa menyerang dimana saja, tidak harus digunung,
didataran rendah, di laut, kolam renang, ataupun di sungai saat ber-arung
jeram.Mangsa HipothermiaDi dunia operasi ESAR, banyak kasus para pendaki gunung
yang tersesat di gunung berakhir kisah hidupnya karena terserang hypothermia
(tidak disadari). Sejak awal tersesat biasanya mereka sudah melakukan tindakan
fatal yang akan makin memperburuk situasi mereka (seperti: bergerak dengan
cepat yang karena panik lalu menjadi lincah melebihi pergerakan normal. Manuver ini jelas menguras sebagian besar
dari energi yang tersisa). Dari beberapa kasus orang tersesat digunung, dalam
pergerakannya mencari jalan keluar cenderung memilih bergerak mengikuti aliran
sungai dengan pertimbangan sungai pasti sampai ke desa, selain itu kemungkinan
besar bisa memperoleh air dengan cepat apabila haus. Tidak sedikit survivor
terpeleset jatuh kedalam sungai, atau dengan sengaja mereka memilih berjalan
didasar sungai karena tepi sungai lebat dan tidak bisa dilalui, sementara
mereka takut bila menjauh dari sungai akan makin tersesat, sehingga keputusan
terbaik (yang beresiko paling tinggi) dari semua pilihan yang tidak diinginkan
adalah tetap mengikuti aliran sungai dengan berjalan didasar sungai (umumnya
sungai-sungai digunung berisi batu-batu tua berlumut dan pasir, kecuali saat
hujan deras baru mungkin air akan menggerojog dahsyat). Yang ada dalam pikiran
survivor hanyalah sesegera mungkin menemukan tanda-tanda yang bisa membawanya
bertemu dengan orang, atau peradaban keseharian. Dan dalam pencariannya ini
pergerakan survivor menjadi semakin jauh tanpa arah yang jelas,
berteriak-teriak, meninggalkan sebagian atau seluruh perlengkapannya dengan
maksud agar pergerakan mencari jalan keluar dari ketersesatannya itu menjadi
lancar tidak terhambat oleh beban ransel dipunggung. Ditengah kebingungan di
belantara asing itu kabut mulai turun, bahkan disertai hujan (jangan selalu
berprasangka bahwa musim kemarau digunung, cuaca akan selalu bersahabat dan
sesuai dengan ramalan-ramalan kita yang tak berdasar sehingga kita akan kaget
begitu dihantam hujan, lalu badai). Dengan sisa tenaga dan pakaian yang mulai
basah oleh keringat, juga hujan, mungkin saja survivor memilih untuk segera
mencari tempat berlindung atau melanjutkan pergerakan karena sudah kepalang
basah. Bergerak ditengah hujan kabut hanyalah sebuah tindakan bunuh diri sementara
rain coat, atau ponco dan jacket di tinggalkan entah dimana. Berteduh dari
kabut atau hujan (diam dan tidak bergerak) semakin membuat tubuh menggigil
kedinginan, hingga umumnya survivor tetap memilih bergerak. Tanpa disadari
energi terus terkuras hingga tubuh menjadi lemah dan limbung. Selanjutnya
ditengah keterasingan itu hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Penting bagi pendaki
gunung, pecinta alam atau penggemar kegiatan alam bebas memahami cara kerja
pembunuh tersebut, agar dalam situasi tersesat atau tertimpa suatu masalah saat
berada di alam bebas tidak bertindak gegabah.Pada situasi seperti apa orang
akan terkena hipothermiaTelah sedikit disinggung diawal tulisan bahwa
hipothermia adalah kondisi medis yang terjadi didalam tubuh dimana panas tubuh
berangsur-angsur hilang, diikuti keseluruhan temperatur tubuh “”ngedrop”"
atau turun secara drastis, dan tanpa ada upaya yang berarti dari dalam dan luar
tubuh untuk memproduksi panas, maka temperatur akan semakin turun hingga
dibawah 30° Celcius, atau dengan kata lain mendekati pintu kubur? Secara umum,
buruknya penyekat (pakaian yang dikenakan) untuk menahan dingin dan angin,
memakai pakaian basah, tercebur kedalam air (bisa jadi tercebur kedalam air
hangat dalam waktu yang lama), kondisi tubuh yang lelah didalam cuaca dingin
berangin, semua itu merupakan faktor pemicu hipothermia. Dalam situasi seperti
inilah tanpa disadari bencana hipothermia bisa menghabisi seseorang yang sama
sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi terhadap dirinya.
Kenali hipothermia dan tanda-tandanya
Secara umum dikenal 3 tahap hipothermia, yaitu: Mild Hypothermia (hipothermia
ringan), Moderate Hypothermia (hipothermia sedang), dan Severe Hypothermia
(hipothermia berat).
Mild Hypothermia (temperatur tubuh drop dari 37° hingga 35°C).
Penderita mulai menggigil saat temperatur tubuhnya turun hingga 36°C (menggigil
adalah usaha alamiah tubuh untuk menghasilkan panas, dan menjaga agar
temperatur bagian dalam tubuh tetap stabil).
Apabila temperatur tubuh terus turun hingga dibawah 36°C, penderita merasa
lelah dan dingin.
Cara berpikirnya mulai terlihat kacau dan pertimbangannya tidak logis, tidak
bisa mengambil keputusan dengan benar, dan mulai berperilaku aneh diluar
kebiasaan normal, serta keras kepala (hanya bertindak atas kemauan sendiri).
Gerakan tangan, kaki, dan anggota badan lainnya mulai cenderung tidak
terkoordinasi dengan otak (misal; mulai sering tersandung sesuatu saat
berjalan, menyampar botol minum, menginjak kompor, bahkan kesulitan untuk
mengancingkan jacket).
Penderita masih terlihat bernafas secara normal namun terus menggigil dan
gemetar.
Apabila penderita Mild Hypothermia tidak segera ditangani, dan itu dianggap
sesuatu yang wajar saja, maka temperature tubuh semakin turun.
Moderate Hypothermia (temperatur tubuh turun dari 35° hingga 32°C),
ditandai dengan kulit ditubuhnya terlihat memucat, otot-otot menjadi kaku dan
sulit menggerakkan jari tangan (koordinasi tubuh terganggu).
Jari tangan dan kaki mati rasa.
Menggigil hebat, lalu sama sekali berhenti menggigil (cadangan energy di dalam
tubuh sudah habis di pergunakan untuk menggigil - bukan berarti penderita tidak
lagi kedinginan)
Penderita sudah tidak mampu berpikir atau mengingat-ingat sesuatu (menjadi
pelupa), dan terlihat tidak mampu merespon dengan baik, bicaranya gagap dan
terlihat sulit melontarkan kata-kata.
Beberapa area tertentu pada tubuh yang biasanya selalu hangat menjadi dingin
(Samping Leher, Ketiak, kunci paha).
Gerakan semakin lamban, kondisi tubuh kian lemah, dan seperti orang yang
mengantuk berat.
Selanjutnya dibawah temperature 32°C semua proses metabolisme tubuh termasuk
napas, degub jantung, dan fungsi otak semakin melemah.
Severe Hypothermia (temperatur tubuh terus turun dari 32° hingga 28°C),
ditandai dengan penderita mulai sering hilang kesadaran, Perilakunya tidak
rasional.
Kulit terlihat membiru, napas dan denyut nadi melemah.
Pupil mata membuka lebar, penderita terlihat seperti sudah meninggal.
Kematian (temperatur tubuh terus turun dari 28° hingga 25°C).
Dibawah temperatur 28° penderita tidak sadarkan diri dan terjadi henti jantung.
Kematian terjadi sebelum temperatur mencapai 25°C.
Berapa lama seseorang dapat bertahan hidup dari serangan hipothermia?
(sejak Mild Hypothermia hingga Severe Hypothermia) Sangat tergantung dari
berbagai faktor yang mendukung untuk terus dapat bertahan hidup, atau berbagai
faktor yang membuat situasi semakin memburuk. Kematian karena hipothermia bisa
terjadi dibawah 24 jam.
(Catatan: Mild Hypothermia berpotensi menjadi bencana apabila penderita adalah
“”team leader”" dalam sebuah perjalanan pendakian gunung atau misi operasi
ESAR dimana dia harus mengambil keputusan, sementara anggota tim tidak paham
bahwa ketua tim nya terserang hipothermia).
Dari pengalaman penulis di alam bebas, menangani seorang tim leader, atau
seorang senior yang kebetulan terserang hipothermia bukanlah pekerjaan mudah,
karena cenderung keras kepala, merasa dirinya paling tahu, dan kelihatan kalau
egonya tidak mengijinkan orang lain memperlakukan dia sebagai seseorang yang
memerlukan pertolongan. Selain membahayakan diri sendiri, sikap keras kepala
membahayakan tim.
Sebaiknya diskusikan kemungkinan serangan hipothermia terhadap tim (semua
personil tim tanpa kecuali) saat briefing pemberangkatan (pendakian gunung,
operasi ESAR) untuk meminimalisir sikap keras kepala apabila salah seorang
personil dari tim terindikasi hipothermia.
Hilangnya panas Tubuh
Hipothermia terjadi karena hilangnya panas tubuh, dan secara alami tubuh tidak
mampu lagi memproduksi energi panas. Ada beberapa proses alami di alam bebas (dalam
hal ini pembahasan hipothermia hanya dibatasi pada Gunung Hutan) yang membuat
panas tubuh secara berangsur-angsur hilang, dan berakibat temperatur tubuh
terus turun hingga berhenti pada satu titik (kematian). Proses hilangnya panas
tubuh secara alami ini penting dipahami untuk dapat menghindari hipothermia
sedini mungkin.
Hilangnya panas tubuh secara alami ini jarang sekali disadari oleh para
pendaki gunung pemula, sementara hal ini merupakan faktor terburuk yang
mempercepat terjadinya penurunan temperatur tubuh.
Prosentase terbesar hilangnya panas tubuh adalah melalui kepala, dan
pernapasan, sementara komando untuk setiap gerakan tubuh kita ada didalam
kepala. Kenyataan ini yang paling sering di abaikan, selain juga kekeliruan
dalam berpakaian makin mempercepat hilangnya panas tubuh.
Pahamilah proses alami hilangnya panas tubuh yang terjadi saat kita berada di
alam bebas, dan upaya pencegahan atau menguranginya
Lima proses alami hilangnya panas tubuh
Proses alami hilangnya panas tubuh Upaya Pencegahan
KonveksiUdara dingin atau angin dingin, kabut ataupun hujan disertai angin
dingin menerpa permukaan tubuh secara langsung (pakaian yang dikenakan tidak
mampu menahan terpaan angin dingin). Panas tubuh banyak terserap untuk
menghangatkan permukaan kulit sehingga lama-kelamaan tubuh bagian dalam menjadi
dingin.
Contoh sederhana: Kita menggunakan konveksi saat meniup makanan atau minuman
panas untuk mendinginkannya, begitu juga angin dingin melakukan hal yang sama
terhadap tubuh kita.
Hindari kontak secara langsung antara permukaan kulit dengan terpaan angin
dingin. Cara termudah adalah dengan mengenakan pakaian berlapis. Upayakan lapis
terluar mampu menahan terpaan angin dingin.selain itu perhatikan arah angin
saat mendirikan shelter sebagai tempat untuk berlindung/bermalam.
KonduksiPengaliran panas dari tubuh melalui permukaan tubuh (kulit) saat
bersentuhan atau kontak dengan permukaan benda yang dingin, seperti batu tempat
kita duduk, tanah basah. Dalam hal ini panas tubuh mengalir keluar dari tubuh
dan terserap benda yang dingin.
Hindari kontak secara langsung dengan benda-benda atau obyek yang dingin,
gunakan sarung tangan (rajut wool) agar tidak terjadi kontak langsung.
Sebaiknya gunakan alas (matras) apabila duduk diatas permukaan tanah basah,
atau juga batuan yang dingin.
EvaporasiPenguapan dari permukaan tubuh yang basah, (keringat, ataupun
pakaian basah yang kita kenakan). Evaporasi banyak membuang panas tubuh, selain
juga cairan dalam tubuh terus berkurang karena penguapan. Bila tidak ada suply
cairan sebagai pengganti kedalam tubuh dapat mengakibatkan dehidrasi
(kekurangan cairan tubuh) dan beresiko terhadap perkembangan hipothermia.
Kenakan pakaian berlapis dengan jenis serat terbuka, ini memungkinkan terjadi
sirkulasi udara hingga keringat dapat menguap dengan cepat. Memakai pakaian 2
hingga 3 lapis akan lebih baik dibanding memakai 1 pakaian tebal, tapi udara
tidak bisa bersirkulasi mengakibatkan pakaian menjadi basah karena keringat
tidak bisa menguap.
RadiasiPanas tubuh dipancarkan keluar dari tubuh melalui kepala (karena
temperatur lingkungan diluar tubuh lebih dingin dibanding tubuh).
Kenakan selalu tutup kepala (balaclava dari wool cukup baik untuk mengurangi
radiasi). Sebaiknya Kenakan juga syal untuk melindungi leher.
RespirasiPanas tubuh hilang melalui proses pernapasan (saat bernapas di
lingkungan yang dingin, hidung menghirup udara dingin dan menghembuskan
[membuang] udara panas dari dalam tubuh).
Lindungi hidung agar tidak langsung menghirup udara dingin, hal ini dapat
dilakukan menggunakan syal, atau mengenakan balaclava yang menutup hidung namun
masih dapat bernapas dengan nyaman.
Menangani penderita Hipothermia di Gunung.Prinsip dasar untuk lepas dari
hipothermia adalah berupaya menaikkan temperatur tubuh yang drop dengan
melindungi tubuh dari terpaan angin dingin, mengganti semua pakaian yang basah
dengan pakaian kering, selanjutnya mentransfer energi dan panas kedalam tubuh
(melalui minum hangat, bubur hangat, alat pemanas) serta membuat lingkungan
disekitar penderita menjadi hangat.Agar diperhatikan bahwa panas tubuh sebagian
besar hilang melalui kepala (radiasi), dan pernapasan (respirasi). Selain
melindungi kepala dengan mengenakan balaclava, letakkan syal terbuat dari wool
diatas permukaan hidung agar saat bernapas tidak secara langsung menghirup
udara dingin, tetapi jangan sekali-kali memblokir jalan pernapasan.Prosedur
umum Penanganan secara teknis penderita hipothermia dilapangan. INGAT! Tangani
penderita Hipothermia dengan lembut dan hati-hati!!!.
Segera lindungi penderita dari terpaan angin dan kontak langsung dengan benda
yang dingin.
Segera pindahkan penderita dari lingkungan yang dingin kedalam shelter, atau
tenda (gelar matras didalam shelter atau tenda agar tidak lagi terjadi konduksi
- tubuh penderita dengan obyek dingin disekitarnya).
Ganti seluruh pakaian basah penderita dengan pakaian kering (sebaiknya pakai 2
hingga 3 lapis pakaian), termasuk kaos kaki dan sarung tangan.
Masukkan penderita kedalam sleeping bag kering yang diberi alas matras.
Apabila penderita masih sadar berikan minuman hangat dan manis (air putih
hangat, coklat hangat, atau jahe hangat - tidak terlalu pedas) sedikit demi
sedikit menggunakan sendok (sebaiknya tidak menggunakan sendok logam). Jangan
sekali-kali memberi minuman yang mengandung alkohol, dan hindari memberi minum
kopi atau teh.
Apabila tubuh penderita bisa menerima suplai air minum hangat melalui mulut,
lanjutkan dengan memberi bubur hangat manis yang juga dimulai sedikit demi
sedikit.
Apabila penderita masih sadar, mintalah ijin agar diperbolehkan mengukur
temperatur tubuhnya selama treatment hipothermia.
Hangatkan lingkungan didalam shelter atau tenda dengan membuat bara dari arang
agar penderita menghirup udara hangat (Catatan: arang yang berkualitas tinggi
tidak akan ber asap dan berbau sehingga aman untuk digunakan didalam tenda).
Hangatkan penderita pada bagian tubuh tertentu yang efectif untuk menyebarkan
panas ke dalam tubuh dengan menempatkan botol plastik yang diisi air panas dan
dibungkus syal atau kain pada Sisi leher, kedua ketiak, dan kunci paha.
Jangan melakukan pemijitan/masase kepada penderita karena akan mempengaruhi
aliran darah dalam tubuh, dan jangan meng-olesi tubuh penderita dengan
balsem/minyak gosok.
Penanganan Moderate Hypothermia, dan Severe Hypothermia di alam bebas.Selain
prosedur penanganan yang sudah disebutkan diatas, Penderita Moderate dan Severe
Hypothermia memerlukan penanganan khusus, tetapi pada situasi darurat di
ketinggian yang sunyi, terisolir dan sulit memperoleh tenaga ahli medis, selain
juga memakan waktu untuk evakuasi, maka pilihan yang ada hanyalah tetap
berupaya semaksimal mungkin menangani penderita walau temperatur tubuh
penderita ternyata sudah berada dibawah 29° Celcius. Catatan untuk penderita
Moderate dan Severe Hypothermia.
Baringkan penderita dengan posisi kaki lebih tinggi.
Lakukan semua prosedur umum penanganan hipothermia, kecuali memberikan suplai
air dan makanan melalui mulut apabila penderita sudah tidak dapat memberikan
respon, karena apapun yang masuk melalui mulut cenderung dimuntahkan kembali,
dan kemungkinan menggangu saluran pernapasan (hidung) karena apa yang
dimuntahkan juga akan keluar melalui kedua lubang hidung.
Lakukan monitoring intensif terhadap botol pemanas yang diletakkan dikedua sisi
leher, ketiak, dan kunci paha. Ganti dengan air panas baru sebelum botol
menjadi dingin. (Sebagai catatan: transfer panas secara fisik atau skin to skin
pada penderita Moderate dan Severe Hypothermia tidak akan banyak berpengaruh
terhadap temperatur tubuh).
Lakukan monitoring intensif terhadap denyut nadi dan napas penderita. Bila
tidak ada lagi denyut napas dan jantung, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP)
- Pemberian bantuan napas dari mulut ke mulut disertai kompresi (penekanan pada
dinding dada). Sebagai catatan, jangan lakukan pernapasan dari mulut ke mulut
apabila penderita mengalami patah tulang disekitar kepala dan leher. Dan jangan
lakukan kompresi apabila penderita menderita patah tulang dada (iga) -
(Catatan: Disarankan tenaga medis terlatih yang melakukan RJP).
Apabila sarana transportasi dan waktu tempuh memungkinkan, dan tidak akan
berpengaruh buruk terhadap perkembangan hipothermia, secepatnya evakuasi
penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan yang intensif.
Mengukur temperatur tubuh penderita hipothermiaUntuk mengukur temperatur tubuh
penderita hipothermia, letakkan thermometer pada ketiak (apabila memungkinkan,
letakkan thermometer dibawah lidah penderita) selama ± 2 menit, dan lakukan
pengukuran secara berkala tiap 5 menit untuk melihat perubahan temperatur
tubuh.Catatan:Pengukuran temperatur tubuh penderita hipothermia yang paling
efectif adalah melalui anus (thermometer di masukkan kedalam lubang anus yang
sebelumnya beri pelumas terlebih dulu - tenaga medis terlatih yang
melakukannya).
Jangan - mengukur temperatur tubuh penderita apabila sedang keras kepala dan
tidak memperdulikan lingkungannya.
Awasi penderita yang keras kepala, karena tindakan-tindakannya yang aneh kadang
berpotensi membahayakan diri sendiri atau tim.
Persenjatai
diri untuk menghadapi Hipothermia
Apa yang ditulis dibawah ini hanyalah pengulangan dari “Pengetahuan
Perlengkapan, Pakaian, dan Makanan Gunung Hutan” yang kadang kita abaikan
karena nyentrik, dan untuk jenis makanan tidak berbau seni masak-memasak
seperti saat kita kemping bersama keluarga. Memang makanan yang diperlukan
untuk sebuah perjalanan gunung hutan pilihannya hanyalah dapat menunjang
ketahanan tubuh kita, serta dapat mempertahankan panas tubuh, bukan kita
memindah warung makan dengan berbagai pilihan menu ke sebuah ketinggian yang
sunyi.
Untuk menghindari ancaman hipothermia, beberapa perlengkapan sederhana dibawah
ini sebaiknya dipertimbangkan untuk selalu menemani saat “ngaprak” atau
“mblakrak” di alam bebas, terutama saat mendaki gunung.
Untuk efectifitas didalam situasi darurat, bawalah selalu thermos berisi air
panas yang isinya selalu siap digunakan sewaktu-waktu, tapi bukan berarti kita
lalu main sambar thermos yang ada di dapur untuk dibawa ke gunung. Dalam
situasi darurat digunung, seperti terserang badai, atau menunggu hujan di dalam
bivak, kita harus mempertahankan panas tubuh kita dengan meminum sedikit demi
sedikit air hangat, dan makanan dengan karbohidrat tinggi yang dapat dirubah
dengan cepat oleh tubuh menjadi energi (misal biskuit manis) yang akan berasa
nikmat bila dicelupkan ke dalam minuman coklat hangat, dan tidak perlu menunggu
dengan memasak air terlebih dahulu.
Biasanya saat tubuh kita sedang menggigil rasanya malas mengeluarkan kompor dan
perlengkapan lain dari dalam backpack untuk melindungi diri dari serangan udara
dingin, umumnya kita lebih sibuk menggigil dari pada bertindak yang seharusnya
(bukan berarti kita tidak memerlukan kompor praktis untuk memasak air atau
menghangatkan makanan, membuat bubur havermout). Sebisa mungkin masukkan
thermos air panas dalam daftar perlengkapan pribadi.
Sebagai catatan penting, jangan bertindak gegabah dengan meneguk minuman
beralkohol karena selain hanya memberi kehangatan semu sesaat, berikutnya
setelah pengaruh alkohol berangsur hilang, berangsur pula darah menjadi dingin
hingga mempengaruhi stabilitas aliran darah didalam tubuh. Bukannya membantu
memperkuat pertahanan tubuh, tapi membantu memudahkan hipothermia menyerang dan
menghabisi kita. Lebih jauh lagi kalau kita kebablasan dalam menenggak minuman
beralkohol diketinggian akhirnya kita sulit mengontrol diri, bisa-bisa jurang
yang tidak kelihatan dasarnya, kita anggap kolam renang air panas alami,
menggiurkan untuk diterjuni.
Makanan - Sebaiknya jangan mempersulit diri dengan membawa makanan-makanan yang
memerlukan waktu lama dalam memasaknya, memerlukan banyak air, dan boros bahan
bakar sementara kita berada dikawasan yang semuanya serba sulit, dan terbatas.
Sebelum menentukan makanan apa yang akan dibawa sebaiknya perhitungkan
kebutuhan kalori perhari yang harus dipenuhi oleh makanan, selanjutnya pilih
jenis makanan, dan buat menu harian.
Ada beberapa
jenis makanan yang patut dipertimbangkan, selain dapat memenuhi kebutuhan
kalori, cepat disajikan dan tidak boros air serta bahan bakar, seperti: Bubur
Balita, Havermouth, moesly, biskuit manis, permen coklat batangan, permen
manis, kismis, kurma kering, buah-buah yang dikeringkan, dan coklat meses
(untuk dicampurkan kedalam bubur balita ataupun havermouth), seven ocean (roti
survival), biskuit coklat manis.
(catatan: makanan berkalori tinggi yang telah disebutkan tersebut dapat menjadi
petaka apabila dikonsumsi sehari-hari, terutama bagi para penderita hipertensi,
dan kolesterol tinggi.)
Untuk makanan berbumbu yang dapat membangkitkan selera makan, kita bisa memilih
mi instan yang hanya perlu diseduh air panas (catatan: ini bukan makanan utama,
hanya pembangkit selera).
Satu hal yang agak sulit adalah membiasakan diri memakan makanan seperti
disebutkan diatas dan menjadikannya sebagai santapan sehari-hari selama
beroperasi di gunung. Beberapa jenis makanan memang tidaklah murah, tapi perlu
dipertimbangkan harga makanan dibanding nyawa yang tidak bisa diukur dengan
nilai uang.
Lindungilah kepala! - Kepala merupakan bagian terpenting dari tubuh dimana otak
merupakan pusat syaraf yang mengendalikan gerakan-gerakan tubuh, dan perlu
diingat, panas tubuh sebagian besar hilang melalui kepala (radiasi), dan
pernapasan (respirasi).
Pakailah selalu penutup
kepala untuk menghindari hilangnya panas tubuh karena radiasi. Untuk perjalanan
di daerah dingin, balaclava terbuat dari wool merupakan pilihan terbaik karena
melindungi hampir seluruh kepala, bahkan juga hidung. Selain melindungi kepala
agar tetap hangat, udara yang dihirup saat bernapas juga terfilter oleh wool
sehingga menjadi hangat.
Pakaian - Memilih pakaian untuk bertualang di gunung lebih ditekankan pada
fungsi pakaian untuk dapat mempertahankan panas tubuh dan melindungi tubuh dari
terpaan angin dingin. Pakailah pakaian berlapis (2 atau 3 lapis). Pakaian
berlapis memungkinkan udara panas tetap berada diantara lapisan pakaian.
Lapis pertama memungkinkan kulit leluasa bernapas sehingga keringat tidak
terperangkap diantara permukaan kulit dan pakaian. Selain juga cepat kering
(tidak menyerap air). Material seperti sutra berserat kasar adalah salah satu
pilihan terbaik sebagai pakaian lapis pertama karena cepat menguapkan keringat
dan kain tidak menjadi basah seperti katun (pakaian untuk lapis pertama ini
dikenal dengan nama “”long johns”" berupa celana panjang dan kaos lengan
panjang). Tentunya banyak jenis material lain yang harganya jauh lebih
terjangkau.
Lapis Kedua dapat menyerap penguapan tapi tidak menghilangkan panas yang ada.
Material dari wool sangat baik untuk dipakai (contoh: sweater wool) karena wool
akan tetap terasa hangat walau basah.
Lapis Ketiga, sebaiknya
berupa jacket yang handal dalam menahan angin dingin, dan anti air, serta dapat
menjaga agar panas tidak hilang.
Sebagai catatan, jangan memakai pakaian sempit hingga gerakan menjadi tidak
nyaman. Dan bawalah selalu pakaian cadangan saat bertualang di gunung.
Sarung tangan & kaos kaki - Untuk menghindari kontak langsung dengan
benda-benda dingin saat berjalan, juga untuk tidur, pakailah sarung tangan
(rajut wool), yang biarpun bagian luar basah karena sering bersentuhan benda
dingin/basah, namun tetap hangat dibagian dalam. Sebaiknya untuk pergerakan
didaerah gunung yang dingin jangan memakai kaos kaki katun. Kaos kaki panjang
model pemain sepak bola cukup baik digunakan. Bawalah kaos kaki cadangan untuk
pergerakan, dan khusus untuk tidur (bermalam).
Sleeping bag - Pilihlah sleeping bag yang apabila kita berada didalamnya, udara
tetap dapat bersirkulasi (tidak terperangkap dalam sleeping bag). Selain itu
bawa serta matras jenis karet yang banyak dijual di toko-toko outdoor yang
digunakan sebagai alas dari sleeping bag. Penting untuk selalu membawa matras
untuk menghindari terjadinya konduksi saat kita harus bersentuhan dengan tanah
atau batu (beristirahat ditengah perjalanan).
Catatan: bungkus selalu sleeping bag dalam kantong plastik, menjaga agar tetap
kering dan hangat.
Tenda - Perlu dipertimbangkan dalam memilih tenda agar - dapat menahan angin,
hujan, mempunyai sirkulasi udara yang baik, praktis dan cepat dalam
mendirikannya serta dapat didirikan tanpa harus memakai patok, tidak mudah
roboh, dan ergonomis tidak seperti layar yang menghadang angin. Cukup leluasa
didalam tenda bukan berarti tenda harus besar, selain itu tenda juga dilengkapi
dengan lapisan anti air.
Kompor & penghangat - Pemilihan kompor berdasarkan medan jelajah, dan lama
operasi, berat dari kompor dan bahan bakar, selain juga kepraktisan. Disamping
itu pemilihan juga didasarkan atas pengalaman masing-masing orang, karena tiap
jenis kompor memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selain kompor bawa
juga beberapa batang lilin, dan korek api anti air. Selanjutnya untuk peralatan
masak, pilihlah yang praktis dan tidak memberatkan.
Perlu dipikirkan juga untuk membawa penghangat didalam tenda yang tidak berbau
sehingga mengganggu pernapasan (bawalah beberapa buah arang briket berkualitas
yang dapat digunakan sebagai penghangat didalam tenda).
Sepatu - Pilih sepatu yang dapat melindungi mata kaki dan bergerigi pada sol
nya. Jangan letakkan sepatu diluar tenda tanpa membungkusnya dengan pembungkus
dari bahan anti air karena biarpun tidak hujan, sepatu akan menjadi dingin dan
basah oleh kabut dan embun.
Beberapa perlengkapan yang sudah disebutkan sebatas alternatif pilihan untuk
mencegah agar kita terhindar dari serangan hipothermia saat bertualang di
gunung. Dalam hal ini tidak ada pembahasan secara detail mengenai perlengkapan,
pakaian, dan makanan, karena kita dapat mempelajari sendiri pengetahuan yang
lengkap mengenai perlengkapan, pakaian dan makanan diluar tulisan ini.
Penutup
Hipothermia merupakan “silent killer” yang kadang tidak kita sadari
kedatangannya (sementara kita diam membisu dan menganggap bahwa ditempat dingin
pasti menggigil dan itu hal biasa, padahal tubuh kita tengah berperang
mati-matian melawannya).
Begitu banyak pendaki gunung yang tidak tertarik untuk memahami hipothermia
yang sungguh sangat berbahaya. Perhatikan saat hipothermia mulai menyerang,
dimana tubuh penderita mulai merasa kedinginan, dan menggigil, sementara teman
lainnya mungkin belum begitu merasakannya. Dan begitu temperatur tubuh
berangsur turun, kemampuan berpikir rasional dan membuat keputusan dengan benar
menghilang. Tahap berikutnya mungkin penderita berhenti menggigil, atau
menggigil hebat, dan mulai mengigau, proses berpikir melambat, dan seperti
kesulitan bernapas.
Agar dimengerti bahwa Hipothermia menyerang tidak pandang bulu, tidak pilih
kasih, dan tanpa pengecualian. Tidak perduli dia pendaki berpengalaman, senior
dalam masalah medis, atau manusia tanpa dosa. Siapa lengah, dia di serang.
Pertolongan seperti apa yang segera harus dilakukan tanpa membuat penderita
ikut menjadi panik? Dan
bagaimana kalau situasi seperti itu ternyata menimpa diri kita? Relakah kita
mempercayai teman, bahkan diri sendiri bahwa kita terserang hipothermia, dan
memerlukan pertolongan?.
Ada perumpamaan tentang hipothermia yang saya kutip dari sebuah film
“”How to Survive”". Perumpamaan yang menarik ini mengatakan: “”Tewas
karena hipothermia bisa diibaratkan seperti lampu-lampu yang dipadamkan satu
persatu sampai akhirnya gelap total.>
Tulisan yang merupakan pengulangan dari sekian ribu tulisan sejenis ini tak
lain dimaksudkan agar kita semua menghargai nyawa kita dengan bersikap dan
berperilaku tidak gegabah terhadap alam bebas, dan mempersiapkan diri sebelum
pergi berpetualang hingga nantinya tidak membuat malu diri sendiri atau lebih
tragis lagi membuat sedih orang-orang yang ditinggalkannya.
Catatan Penting:
Penting bagi para pendaki gunung, terutama tim SAR yang dalam hal ini unit-unit
pencari untuk memperlengkapi tim dengan thermometer hipothermia (skala
temperatur hingga dibawah 25°C, tapi bukan thermometer ruang). Dengan adanya
thermometer maka saat subyek ditemukan lalu distabilkan, segera dapat diketahui
temperatur tubuh subyek, yang artinya diketahui pula tahap hipothermia apabila
memang temperatur tubuhnya drop. Diharapkan penanganan terhadap hipothermia
akan menjadi lebih efectif, karena perkembangan hipothermia yang diderita
subyek akan terkontrol dengan pemeriksaan temperatur tubuh secara berkala.